Post Page Advertisement [Top]

DAY 1 Yin Yoga World Home YTT Modul 1 Listen to Your Body - Group A
10-14 July 2019

Pada awal-awal tahun saya mulai mengajar yoga, yaitu sekitar tahun 2000, saat itu adalah tahun- tahun tersulit dalam perjalanan saya. Atas bimbingan yang intens dari seorang Acarya Ananda Marga, kami membuka kelas yoga di gedung DPRD Renon. Kenapa saya katakan sulit? Karena saat itu setiap minggu pagi saya menyiapkan matras yoga (sekitar 40) mengambilnya di Jagrti, lalu menata rapi di dalam ruang yoga yang berlokasi di salah satu pojokan kantor DPRD, dan kemudian mengundang calon peserta yoga dengan berkeliling menyebarkan brosur di lapangan Renon. Itu kami lakukan dengan gratis.

Memang benar, untuk memperkenalkan sesuatu bahkan secara gratis, itu bukan perkara gampang. Lalu kemudian cerita perjalanan yoga saya berlanjut, tentunya dengan lika - likunya sampai saat ini. Alur ceritanya terlihat simple namun apa yang saya dapatkan dan saya pelajari adalah nyata, dan bagi saya semua itu sangat berharga. Pengalaman ini mengajarkan kepada saya akan pentingnya suatu pondasi yang baik dari satu profesi yang dianggap oleh sebagian orang "spiritual", yang kadang diartikan "tidak boleh dikotori dengan uang", lalu menemukan titik keseimbangannya dengan dunia pencarian materi. 

Ini bisa dijabarkan dengan berbagai macam cara atau bahkan terkadang dalam penerapannya kita sebagi pengajar yoga yang professional (bukan sekedar hobby) mendapat cibiran atau julukan "guru yoga matre". Bagi saya, itu adalah resiko yang mesti dijalani. Namun pondasi yang kuat berupa pengamalan ilmu secara tulus bisa membentuk produk yang kita buat menjadi sesuatu yang berguna bagi banyak orang, "bermutu" secara material dan "berbobot" secara spiritual. Lalu tahun tahun berikutnya saya dibanjiri oleh order yoga yang angkanya terus "meningkat" karena yoga sudah mulai dikenal dan program private yoga di hotel - hotel sudah marak.

Hal ini bertumbuh secara alami sesuai dengan hukum ekonomi: semakin banyak permintaan, saat persediaan barang/ jasa menipis, maka semakin mahal harga suatu produk. Ini terjadi sampai kira-kira tahun 2014 sampai saya mulai bosan mengajar yoga. Ini saya sebut dengan era kejayaan kelas yoga private (YAY!). Namun setelah itu era baru dimulai, di mana orang mulai berlomba-lomba untuk menjadi guru yoga. Kembali lagi, prinsip ekonomi memaksa saya (kita semua) untuk menerima kenyataan, bahwa jumlah kelas yoga mulai berkurang, karena banyaknya pesaing baru. 

Syukurnya, saya sudah mempersiapkan kondisi ini, dengan belajar hal- lain yang bisa saya tekuni untuk mensupport kegiatan yoga saya. Thai yoga massage dan yoga photography adalah pilihan saya. Seiring dengan berjalannya waktu saya dan Nyoman Wahyuni (lead Teacher Yin Yoga World) memulai Workshop dan Yoga Teacher Training yang mana adalah solusi jitu untuk memberikan ilmu yang terbaik bagi calon pengajar yoga, sehingga murid-murid yang sudah sempat belajar pada kami mempunya kualitas yang bisa diandalkan dan dipertanggungjawabkan saat menjalani profesinya. 

Pagi tadi, sebelum Home Yoga Teacher Training (Modul 1 Group A) dimulai, saya sempat berdiskusi dan sharing tentang pentingnya untuk selalu belajar ilmu baru, membuka pikiran dan memperluas wawasan sehingga dalam bisnis yoga kita tidak mudah terkecoh oleh orang yang pura - pura baik atau orang yang sok hebat. Namun di satu sisi, kita juga harus pandai mencitrakan diri (branding) sehingga manfaat yoga dan kearifan spiritual bisa dinikmati lebih luas lagi. 

Bagaimana cara mencitrakan diri? Mulailah dengan "Listen to Your Body" (tema dari Yoga Teacher Training YIN YOGA WORLD 50 HRS MODUL 1), kemudian menggali potensi diri lebih dalam ... dig deeper to yourself... dan berikutnya adalah temukan style yoga yang sesuai dengan ketertarikanmu yang juga mampu mewakili karaktermu dan dari titik ini mulailah meluas, berbagi.

Semoga sharing saya pagi ini mampu membangkitkan semangat yoga bagi kita semua... Namaskar.

Yin Yoga World, Kutuh
10 July 2019

No comments:

Bottom Ad [Post Page]